PENDIDIKAN KARAKTER
DALAM SASTRA ANAK I MANYAMBUNGI
BAHAN
PENGAYAAN MATERI AJAR SASTRA DI SMP/MTs*
Dr.
Juanda, M.Hum.
Jurusan
Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Sastra
Universitas
Negeri Makassar
ABSTRAK
Karya
sastra tradisional, sastra anak jenis legenda banyak dikenal di Sulawesi
Selatan. Karya sastra jenis ini telah dikenal sejak jaman dahulu kala yang
penyampaiannya secara lisan. Karya sastra ini perlu diinvetaris ulang lalu
dianalisis untuk mengetahui nilai-nilai yang terdapat di dalamnya. I Manyambugi merupakan cerita dari
Sulawesi Selatan dan juga di kenal di Sulawesi Barat. I Manyambungi merupakan tokoh utama dalam cerita, hero yang dikenal
perkasa melawan musuhnya. Cerita ini berawal di Bukit Napo, Kerajaan Balanipa
di Sulawesi Barat hingga ke Gowa, Kerajaan Gowa di Sulawesi Selatan. Penelitian
ini bertujuan mendeskripsikan bentuk-bentuk
pendidikan karakter yang terdapat dalam legenda I Manyambungi dan menentukan KD materi ajar sastra anak I
Manyambungi sebagai pengayaan
materi ajar di SMP/MTs. Penelitian
ini menggunakan metode kualitatif deskriptif.
Teori yang digunakan adalah pendidikan karakter (Muslich, 2011:12); (JIST,
Ed. 2006). Objek Penelitian, masalah
karakter dalam sastra anak, legenda I
Manyambungi. Data dalam penelitian ini yaitu data
kualitatif berupa kata-kata, frase,
kalimat, dan wacana. Sumber data, “Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara, Indonesia” yang diterbitkan di Surabaya oleh penerbit Terang
karya M.B. Rahimsyah. Teknik Pengumpulan Data, adalah teknik
pustaka, simak, dan catat. Validitas
Data menggunakan teknik trianggulasi: trianggulasi data, peneliti,
metodologis, dan teoretis. Teknik
Analisis Data; pembacaan model semiotik yakni pembacaan heuristik
dan hermeneutik. Temuan, ada 9
pendidikan karakter yang terdapat dalam cerita I Manyambungi, yaitu: kreatif, cerdik, penolong, pemberani,
pemimpin, menepati janji, pemaaf,
kepercayaan dan kerja sama. Legenda
I Manyambungi sangat tepat sebagai
bahan pengayaan materi ajar SMP/MTs kelas VIII pada KD Fabel.
Kata
Kunci: Sastra Anak, Karakter, Pengayaan, I
Manyambungi
PENDAHULUAN
Karya sastra tradisional banyak
dikenal di Sulawesi Selatan. Karya sastra jenis ini telah dikenal sejak jaman
dahulu kala yang penyampaiannya secara lisan. Karya sastra ini perlu
diinvetaris ulang lalu dianalisis untuk mengetahui nilai-nilai yang terdapat di
dalamnya. Hasil analisis atau kajian
dapat merekomendasikan kepada pengambil kebijakan untuk menentukan layak
atau tidak dipakai sebagai bahan ajar: materi ajar (materi inti, pengayaan atau
remedial) pada sekolah pendidikan Dasar dan Menengah.
I Manyambungi merupakan cerita dari
Sulawesi Selatan dan juga di kenal di Sulawesi Barat. I Manyambungi merupakan tokoh utama dalam cerita, hero yang dikenal
perkasa melawan musuhnya. Cerita ini berawal di Bukit Napo, Kerajaan Balanipa
di Sulawesi Barat hingga ke Gowa, Kerajaan Gowa di Sulawesi Selatan. Menilik
tokohnya sastra anak yang berjudul I
Manyambungi ini masuk dalam ragam sastra tradisional jenis legenda karena menampilkan tokoh sebagai hero yang
memiliki kehebatan tertentu dalam berbagai aksinya dan itu sangat mengesankan.
Satra
anak merupakan karya yang dari segi bahasa memiliki nilai estetis dan dari segi
isi mengandung nilai-nilai yang dapat memperkaya pengalaman rohani bagi
kalangan anak-anak. Unsur didaktis pada sastra anak paling sering dan paling kentara hadir pada sastra anak berjenis cerita rakyat (Citraningtyas, 2013: 3 ). Sastra anak
dapat dikatakan sebagai suatu karya
sastra yang bahasa dan isinya sesuai perkembangan usia dan kehidupan anak, baik
ditulis oleh pengarang yang sudah dewasa, remaja atau oleh anak-anak itu
sendiri. Karya sastra yang dimaksud bukan hanya yang berbentuk puisi dan prosa,
drama melainkan juga yang berbentuk film. Karya
sastra pada era modern yang ditunjang oleh perkembangan teknologi khususnya di
bidang entertainment menjadikan genre sastra berkembang. Genre sastra terdiri
atas empat bidang kajian, yaitu: fiksi, puisi, drama, dan film (Klarer, 2004:
9).
Sastra dapat mengembangkan
wawasan anak menjadi perilaku insani. Melalui karya sastra yang luas dapat membuat
anak mengerti dunia. Anak dapat
membayangkan dan merasakan keindahan serta anak dapat merasakan kesadaran mengenai kehidupan orang lain, suku lain
bahkan bangsa lain sekalipun. Sastra
mengembangkan imajinasi anak untuk
memikirkan alam, insan, pengalaman, atau
gagasan dengan berbagai cara. Sastra
dapat memberikan pengalaman seolah-olah
si anak sendiri yang mengalaminya,
seperti: petualangan, perjuangan dalam menghadapi rintangan.
Pengajaran
sastra memerlukan bahan ajar yang sesuai dengan karakteristik peserta didik.
Dalam pemilihan bahan ajar sastra apakah itu berupa materi ajar, pengayaan atau
remedial memerlukan penyeleksian yang akurat agar diperoleh materi ajar yag
sesuai dengan karakteristik peserta didik.
Masalah penelitian ini adalah
bagaimana bentuk-bentuk pendidikan karakter
yang terdapat dalam legenda I
Manyambungi dan pada KD mana tepatnya sastra anak I Manyambungi dijadikan sebagai pengayaan materi ajar di SMP/MTs?
TEORI DAN METODOLOGI
Sastra
Anak
Karya
sastra, sastra anak, merupakan cerita
fiksi. Fiksi mencakup pengimajinasian dan
proses penciptaan atau penegasan
isi cerita. Kondisi ini dapat diubah dalam bentuk yang akan datang dan tidak
selamanya menjadi penting dalam kejadian masa lampau. Penekanan pada keberadaan
konteks histori dan sejumlah ciri standar dapat menjadi objek penceritaan fiksi (Stock, 2016: 211).
Siapapun yang menulis sastra
khususnya sastra anak tidak perlu dipermasalahkan asalkan dalam penggambarannya
ditekankan pada kehidupan anak yang memiliki nilai kebermaknaan bagi mereka
(Huck, 1987). Secara teoretis sastra anak adalah sastra yang dibaca oleh anak-anak dengan bimbingan orang tua, orang
dewasa sedangkan penulisannya juga dilakukan oleh orang dewasa (Sarumpaet,
2010: 2). Menurut
Nodelman dalam (Odhiambo, 2016: 9) Sastra anak diperlukan bagi anak untuk
didaktis. Guru harus paham bagaimana mereka berbeda dari orang dewasa dan
bagaimana menjadikan anak berkualitas. Berdasarkan pada pemahaman sastra anak
sebagai sarana didaktis, genre ini selalu menjadi pedoman perilaku anak.
Anak-anak memiliki pengalaman
emosi yang berbeda seperti sedih. Mereka
dapat mengekspresikan emosinya kepada orang yang dapat memahami atau memberikan
semangat tetapi kadang-kadang mereka merasakan ketidakmampuan mengekspresikan
emosinya. Wilburt menunjukkan jenis
emosi, misalnya: bahagia, sedih, gembira, takut, gugup, heboh, frustrasi,
marah. Dia dapat mencurahkan permasalahannya kepada teman akrab mereka (Markell
and Marc A. Markell, 2008: 90).
Ragam
sastra anak antara lain kisah-kisah tradisonal: pepatah, peribahasa, fabel,
cerita rakyat, mitos, dan legenda. Legenda amat berhubungan erat dengan mitos.
Biasanya kita mengingat tokoh yang sangat kuat dan menjadi pembela dalam sebuah
legenda.
Ada beberapa hal yang dapat dipetik
hikmahnya dalam sebuah cerita, khususnya sastra anak, yaitu: (1) dapat menciptakan emosi kasih sayang yang
mengarah pada kebaikan, hastrat untuk melakukan perbuatan yang benar; (2) menyediakan kekayaan keteladanan akan kebaikan;(3)
dapat membiasakan remaja dengan aturan moral yang mereka perlu ketahui; (4) dapat membantu untuk membuat pengertian kehidupan, membantu menciptakan kehidupan diri sendiri sebagaimana
sebuah cerita (Felicia, 2000: 6-7).
Pendidikan
Karakter
Pendidikan
karakter adalah proses internalisasi budaya ke dalam diri seseorang dan
masyarakat sehingga membuat orang dan masyarakat menjadi beradab (Muslich,
2011:12). Kemendiknas (2011) mengemukakan nilai karakter sejumlah 18 sebagai
panduan pendidikan karakter di sekolah, yaitu: 1) religius; 2) jujur; 3)
toleransi; 4) disiplin; 5) kerja keras; 6) kreatif; 7) mandiri; 8) demokratif;
9) rasa ingin tahu; 10) semangat kebangsaan; 11) cinta tanah air; 12)
menghargai prestasi; 13) bersahabat/komunikatif; 14) cinta damai; 15) gemar
membaca; 16) peduli lingungan; 17) peduli social; 18) tanggung jawab.
Pendidikan
karakter dapat tercapai pada pendidikan anak bilamana peran orang tua meluangkan waktu untuk
perhatian kepada anak dimaksimalkan. Perhatian
diperlukan oleh anak-anak dari orang tua, seperti kasus di bawah ini yang
dicontohkan oleh (Raatma, 2013:5).
Steven insighed and rested his head in his hands as he sat down after
getting home from school. “What’s the
matter?” asked his dad. “I had a bad day today,” said Steven. “Do you want to
talk about it while we shoot some hoops?” Steven’s dad asked with a smile. “Yeah!”
he answered. “Thanks, Dad.”
Moral dibedakan dari konvensi sosial yang
didefinisikan sebagai noma-norma tingkah laku yang mengatur interaksi anggota
kelompok sosial yang ada dalam suatu kelompok. Konsep dan keputusan konvensi
sosial, misalnya penyapaan seperti dalam orang Bugis “puang, daeng, andi” (Turiel, 1983, 2002). Suatu dasar menjadi alasan pada domain teori ini bahwa pemahaman kita pada moral dan bentuk konvensi yang membedakan
pengembangannya (Larry Nucci and Deborah
W. Powers, 2014:
122).
Banyak sumber rujukan yang menjelaskan bagaimana
anak-anak mengembangkan dirinya, misalnya pengembangan megaskill. Pengembangan ini dapat
menjadikan siswa berhasil dalam pembelajaran dan terhadap tugas yang diberikan
kepada mereka ( Rich, 2008 : 28).
Megaskill seperti di bawah ini.
Confidence: feeling able to do it; Motivation: wanting to do it; Effort: being willing to work hard; Responssibility: doing what’s right; Initiative: moving into action ; Perseverance: completing what you
start ; Caring: showing concern
for others; Teamwork: working
with others; Common Sense: using
good judgment; Problem Solving: putting
what you know and what you can do into
action; Focus: concentrating
with a goal in mind; Respect: showing
good behavior, courtesy, and appreciation. Pengembangan ini dapat menjadikan siswa berhasil
dalam pembelajaran dan terhadap tugas yang diberikan kepada mereka.
Kajian
ini menganalisis teks untuk anak-anak memberikan pemahaman yang lebih baik
dapat mengajarkan anak tentang aturan baru, variasi budaya, memfokuskan pada
persoalan-persoalan yang lazim (Sweeney, 2016, 11). Heidegger mengingatkan kita
bagaimana arah dari ide ’melindungi dan
menghargai’ (Windows and Doors , 2014:
10).
Dalam buku
Isaacs’s 2001 Character Building , dia menggunakan perbedaan antara merespons pada suatu pertemuan dan respons
pada perseorangan, seorang individu dapat bertemu karena suatu kewajiban sementara
mengkomplain dan argumen tentang itu tidak membuatnya interaktif. Disisi lain kemampuan merespons seseorang akan mengembangkan kecakapan mereka yang lebih baik
(Miller, Madonna M.Murphy, and Sharon L.Banas, 2009:13).
Ada 50
jenis karakter dalam (JIST, Ed. 2006),
yaitu: bertanggung jawab, menyesuaikan diri, mementingkan kepentingan orang
lain, berambisi, tegas, peduli, berbelas
kasih, mempertimbangkan, bekerja sama, berkelanjutan, berani, kreatif,
meyakinkan, dedikasi, dipercaya, tekun, bermartabat, adil, fokus, pemaaf, murah hati, ramah,
bermasyarakat, ulet, penolong, jujur,
rendah hati, berinovasi, punya rasa ingin tahu, periang, pemimpin, loyal, terbuka, sabar, sopan, positif, cerdik,
menghormati, peka, yakin, displin, percaya diri, rasa kemanusiaan, sensitif,
tim kerja, siap, toleransi, terpercaya, visioner, dan bijaksana.
Bahan
Ajar dan Materi Ajar
Dalam
PP nomor 19 tahun 2005 Pasal 20, diisyaratkan bahwa guru diharapkan mengembangkan
materi pembelajaran, yang kemudian dipertegas malalui Peraturan Menteri
Pendidikan Nasional (Permendiknas) nomor 41 tahun 2007 tentang Standar Proses,
yang antara lain mengatur tentang perencanaan proses pembelajaran yang
mensyaratkan bagi pendidik pada satuan pendidikan untuk mengembangkan rencana
pelaksanaan pembelajaran (RPP). Salah satu elemen dalam RPP adalah sumber
belajar. Dengan demikian, guru diharapkan
untuk mengembangkan bahan ajar sebagai salah satu sumber belajar.
Dalam pandangan ini tantangan untuk
pendidikan orang dewasa, pertama pemberian pada suatu pelayanan bahwa bertemu
cukup disesuaikan dengan kebutuhan pembelajar orang dewasa dan kebutuhan tenaga
kerja. Kedua, pendidan orang dewasa mensimulasikan permintaan. Efektif dan
efisiennya pendidikan orang dewasa ditentukan oleh oleh struktur politik,
system pemerintahan dan system pendidkan (European Commission, 2007 )
(Leone, 2013: 9)
Guna menghasilkan tamatan yang
mempunyai kemampuan sesuai standard kompetensi
lulusan, diperlukan pengembangan pembelajaran untuk setiap kompetensi secara
sistematis, terpadu, dan tuntas (mastery learning). Pada pendidikan menengah
umum, di samping buku-buku teks, juga dikenalkan
adanya lembar-lembar pembelajaran (instructional sheet) dengan nama yang
bermacam-macam, antara lain: lembar tugas (job sheet), lembar
kerja
(work sheet), lembar informasi (information sheet) dan bahan ajar lainnya baik
cetak maupun non-cetak. Semua bahan yang digunakan untuk mendukung proses
belajar itu disebut sebagai bahan ajar (teaching material).
Sumber belajar dalam website bced didefinisikan
sebagai berikut: Learning resources are
defined as information, represented and stored in a variety of media and
formats, that assists student learning as defined by provincial or local
curricula. This includes but is not limited to, materials in print, video, and
software formats, as well as combinations of these formats intended for use by
teachers and students. http://www.bced.gov.bc.ca/irp/appskill/
asleares.htm January 28, 1999 Menurut Association for Educational
Communications and Technology (AECT, 1977), sumber belajar adalah segala sesuatu
atau daya yang dapat dimanfaatkan oleh guru, baik secara terpisah maupun dalam
bentuk gabungan, untuk kepentingan belajar mengajar dengan tujuan meningkatkan
efektivitas dan efisiensi tujuan pembelajaran. Sebuah bahan ajar paling tidak
mencakup antara lain :
a.
Petunjuk belajar (Petunjuk siswa/guru)
b.
Kompetensi yang akan dicapai
c.
Content atau isi materi pembelajaran
d.
Informasi pendukung
e.
Latihan-latihan
f.
Petunjuk kerja, dapat berupa Lembar Kerja (LK)
g.
Evaluasi
h. Respons atau balikan terhadap hasil
evaluasi (Kusuma, 2007)
Metode
Penelitian
Penelitian ini
menggunakan metode kualitatif deskriptif
selalu menyajikan temuannya dalam bentuk deskriptif kalimat yang rinci,
lengkap dan mendalam mengenai proses mengapa dan bagaimana sesuatu itu terjadi
(Sutopo, 2006: 139).
Objek Penelitian, Sangidu (2004: 61) menyatakan bahwa objek penelitian
sastra adalah pokok atau topik penelitian sastra Objek penelitian dalam
penelitian ini adalah masalah karakter
dalam sastra anak, legenda I Manyambungi. Data
dalam penelitian ini yaitu
data kualitatif berupa kata-kata,
frase, kalimat, wacana dalam , legenda I Manyambungi. Sumber
data, data primer berkaitan karakter dari I Mangambungi dari “Kumpulan cerita
Rakyar Nusantara, Indonesia yang diterbitkan di surabaya oleh penerbit terang
karya M.B. Rahimsyah.. Data sekunder data yang berupa karakter dari internet.
Teknik
Pengumpulan Data, Teknik
pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik pustaka,
simak, dan catat. Teknik pustaka adalah teknik yang menggunakan sumber-sumber
tertulis untuk memperoleh data, sedangkan teknik simak dan catat berarti
peneliti sebagai instrumen kunci melakukan penyimakan secara cermat, terarah
dan teliti terhadap sumber data primer. Data yang diperoleh dalam bentuk
tulisan, harus dibaca, disimak. Validitas
Data; Validitas data atau keabsahan data dalam penelitian ini
dilakukan dengan cara mengumpulkan data dengan berbagai teknik yang benar-benar
sesuai dan tepat untuk menggali data yang benarbenar diperlukan bagi
penelitian. Ketepatan data tersebut tidak hanya tergantung dari ketepatan
memiliki sumber data dan teknik pengumpulannya, tetapi juga diperlukan teknik
pengembangan validitas datanya. Penelitian ini menggunakan teknik trianggulasi.
Trianggulasi merupakan teknik yang didasari pola pikir fenomenologi yang
bersifat multiperspektif. Artinya untuk menarik simpulan yang mantap,
diperlukan tidak hanya satu cara pandang (Sutopo, 2006: 92). Patton (2002: 247)
menyatakan bahwa ada empat macam teknik trianggulasi, yaitu sebagai berikut:
1. Trianggulasi data, mengarahkan peneliti
agar di dalam mengumpulkan data wajib, ia wajib menggunakan beragam sumber data
yang berbeda-beda.
2. Trianggulasi peneliti, yaitu hasil
penelitian baik data atau pun simpulan mengenai bagian tertentu atau
keseluruhannya bisa diuji validitasnya dari beberapa peneliti yang lain.
3. Trianggulasi metodologis, dilakukan
peneliti dengan cara mengumpulkan data sejenis tetapi menggunakan teknik atau
metode pengumpulan data yang berbeda.
4. Trianggulasi teoretis, dilakukan peneliti
dengan menggunakan perspektif lebih dari satu teori dalam membahas permasalahan
yang dikaji. Jenis teknik trianggulasi yang digunakan dalam penelitian ini
adalah trianggulasi teoritis, yaitu dengan menggunakan teori yang berbeda untuk
melakukan perbandingan, tetapi tetap menggunakan teori khusus yang digunakan
sebagai fokus utama dari kajiannya secara mendalam.
Teknik Analisis
Data; Analisis
yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan teknik pembacaan model semiotik
yakni pembacaan heuristik dan hermeneutik. Menurut Riffaterre (dalam Sangidu,
2004: 19), pembacaan heuristik merupakan cara kerja yang dilakukan oleh pembaca
dengan menginterpretasikan teks sastra secara referensial lewat tanda-tanda
linguistik. Pembacaan heuristik juga dapat dilakukan secara struktural (Pradopo
dalam Sangidu, 2004: 19). Pembacaan hermeneutik dilakukan dengan memberikan
penafsiran , interpretasi makna dalam teks I manyambungi.
HASIL
DAN PEMBAHASAN
.
PENDIDIKAN KARAKTER DALAM SASTRA ANAK I MANYAMBUNGI
Pendidikan karakter tidak dapat
dipisahkan dengan pengajaran sastra.
Karya satra sasrat dengan nilai-nilai pendidikan ahlak. Cerita rakayat “
Bawang Putih dan Bawang Merah” mengandung nilai pendidikan tentang kemanusiaan.
Cerita binatang “Pelanduk Jenaka” mengandung pendidikan tentang harga diri,
sikap kritis, dan protes sosial. Ada 9
pendidikan karakter yang terdapat dalam cerita I Manyambungi, yaitu: kreatif, cerdik, penolong, pemberani,
pemimpin, menepati janji, pemaaf,
kepercayaan dan kerja sama.
Karakter-karakter tersebut akan
diuraikan di bawah ini beserta contoh dalam kutipan.
1. Kreatif
Kreativitas adalah suatu kemampuan
untuk menyelesaikan masalah yang memberikan kesempatan individu untuk
menciptakan ide-ide asli/adaptif fungsi kegunaannya secara penuh untuk
berkembang (Widyatun,1999) dalam (http://www.kompasiana.com, diakses 5 Mei 2016).
Karakter kreatif dapat dilihat pada tokoh I Manyambungi yang selalu menang di medan perang karena selalu
menggunakan ide-ide sesuai kondisi di medan perang sehingga selalu berhasil
menaklukkan musuh. Contoh kutipan di bawah ini.
“Raja Gowa kemudian mengangkat orang
yang diterbangkan Rajawali ini menjadi panglima perang. Kalau raja pergi
berperang, pasukannnya selalu menang berkat
kesaktian panglimanya. Keahlian di medan perang tidak tertandingi
(Rahimsyah, 128).
Karakter kreatif dapat pula dilihat pada tokoh Raja Balanipa.
Dia selalu latihan perang untuk mempertahankan wilayah kerajaannnya dari
serangan musuh. Pergi berburuh selama beberapa hari dan bermalam di hutan.
Contoh dalam kutipan di bawah ini.
“Raja Balanipa selalu bekerja keras,
kreatif menjaga kesehatan badannya, baik dengan olahraga secara teratur, latihan
perang, maupun berburu. Tidak lupa rajin
minum jamu dan obat ramuan tabib terkenl, semua itu dilakukannya agar dapat
berumur panjang (Rahimsah, 126).
2. Cerdik
Arti
kata cerdik ini adalah kecepatan
proses berfikir, ketepatan atau akurasi keputusan dan tindakan yang
diambil. Akurasi keputusan harus didukung dengan pemilihan metodologi yang
cocok untuk itu. Terkhir adalah keuntungan atau manfaat
yang diperoleh memuaskan (https://jalius12.wordpress.com,
diakses 5 Mei 2016). Raja Balanipa selalu
menggunakan kecerdikannya sehingga selalu tepat apa yang dia perkirakan.
Misalnya kutipa berikut ini.
“Raja
Balanipa memang cerdik. Kekhawatirannya
terbukti. Sehari setelah ia berangkat berburu, permaisuri yang tinggal di Mosso
melahirkan bayi laki-laki
(Rahimsah, 126).”
.
3. Penolong
Penolong
adalah orang yang menolong: regu penolong telah disebar;
alat dan sebagainya untuk menolong (KKBI). Puang Mosso muncul sebagai penolong dalam cerita ini, yaitu dia disuruh oleh raja membunuh bayi yang dilahirkan oleh permaisuri raja, bilamana bayi yang dilakhirkan laki-laki. Puang Mosso malah sebaliknya menolong atau memelihara bayi tersebut hingga besar. Contoh kutipan di bawah ini.
alat dan sebagainya untuk menolong (KKBI). Puang Mosso muncul sebagai penolong dalam cerita ini, yaitu dia disuruh oleh raja membunuh bayi yang dilahirkan oleh permaisuri raja, bilamana bayi yang dilakhirkan laki-laki. Puang Mosso malah sebaliknya menolong atau memelihara bayi tersebut hingga besar. Contoh kutipan di bawah ini.
“Sementara
itu Puang Mosso merasa kasihan sekali melihat keadaan bayi laki-laki itu, bayi
itu agak lain daripada bayi-bayi kebanyakan. Lidahnya berbulu dan berwarna
hitam. Ia tak tega untuk memyembelih
bayi itu. Ia mencari akal . Lalu menyembeli seekor kambing dan membuatkan nisan
untuk kuburan” (Rahimsyah, 127).
4. Pemberani
Keberanian adalah suatu tindakan memperjuangkan
sesuatu yang dianggap penting dan mampu menghadapi segala sesuatu yang dapat
menghalanginya karena percaya kebenarannya. (Peter Irons) Keberanian
adalah suatu sifat mempertahankan dan memperjuangkan apa yang dianggap benar
dengan menghadapi segala bentuk bahaya, kesulitan, kesakitan, dan lain-lain. (Paul
Findley). Ciri-ciri Pemberani: Semangat dan Pantang menyerah; Berpikir
untuk menciptakan kemajuan; tekad, Bertekad kuat serta Siap menanggung resiko; Konsisten/Istiqomah;
Optimisme, berpikir secara matang dan terukur sebelum bertindak; Mampu
memotivasi tindakan orang lain; Selalu tahu diri, rendah hati, dan mengisi jiwa
serta pikiran dengan pengetahuan baru menuju ke arah yang benar; Bertindak nyata dan Elegan (http://iklanmanismadu.blogspot.com. diakses, 5 Mei 2016).
Tokoh I manyambungi dalam cerita selalu menang melawan musuh-musuhnya
bila berperang. Hal ini karena keberanian yang dimilikinya. Contoh kutipan di
bawah ini.
“Pada hari yang
ditentukan mereka menyerbu istana. Khusus Raja Lego di hadapi oleh I
manyambungi sendiri. Dalam pertempuran yang sangat dahsyat , Raja Lego akhirnya
dapat dikalahkan oleh I Manyambungi..
raja kejam itu tewas di ujung badik I
Manyambungi (Rahimsyah, 129-130).
“Setelah di Salemo, anak
itu semakin tumbuh menjadi remaja. Dia senang memanjat. Suatu hari ketika ia sedang memanjat pohon,
tiba-tiba datang seekor burung rajawai
raksasa yang mencengkeram pundaknya, lalu membawanya terbang ke tempat
yang jauh. Sampai di Gowa burung rajawali menjatuhkan anak itu di tengah sawah”
(Rahimsyah, 127).
5. Pemimpin
Arti pemimpin adalah seorang pribadi
yang memiliki kecakapan dan kelebihan, khususnya kecakapan/ kelebihan di satu
bidang sehingga dia mampu mempengaruhi orang-orang lain untuk bersama-sama
melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi pencapaian satu atau beberapa
tujuan. Pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan -
khususnya kecakapan-kelebihan di satu bidang , sehingga dia mampu mempengaruhi
orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu untuk
pencapaian satu beberapa tujuan (Kartono, 1994 : 181).
I
Manyambungi merupakan
tokoh yang selalu menjalankan kepemimpinannya dengan baik. Dia berhasil
menjadikan rakyat damai, tenteran dari kerajaan
yang awal pemerintahannya kacau balau. Contoh kutipan di baah ini.
“Akhirnya, I Manyambungi yang menjadi
penerus tahta kerajaan Balanipa yang kacau
balau pada waktu itu. Pada masa pemerintahan I manyambungi negeri tersebut menjadi aman, makmur, dan sentosa “
(Rahimsyah, 130).
6. Menepati Janji
Panglima perang raja Gowa, I Manyambungi menepati janjinya pergi ke
Kerajaan Balanipa untuk membantu rakyatnya berperang. Dia akan pergi ke
kerajaan tersebut bila yang datang menjemputnya adalah Puang Mosso. Setelang
Puang Mosso datang ke Kerajaan Gowa yang sebelumnya telah panjang lebar
menceritakan siapa gerangan I Manyambungi.
I Manyambungi menyanggupi, menepati
janji untuk pergi berperang ke Kerajaan
Napo sebagai mana yang telah dijanjikan sebelumnya. Contoh kutipan di bawah
ini.
“Janji saya ini ridak boleh didengar
oleh Raja Gorwa. Saya betul-betul akan
berangkat ke Balanipa, karena saya
mengingat budi baikmu kepadaku, sewaktu kecil engkaulah yang menyelamatkan dan
memeliharaku (Rahimsyah, 129).
7. Pemaaf
Sebelum mengucapkan sesuatu atau
sebelum melakukan suatu tindakan Puang Mosso minta maaf kepada Panglima Perang Raja
Gowa I
Manyambungi. Kutipan di bawah ini.
“Dada puang mosso berdebaran. Jangan-jangan dialah anak Raja Balanipa yang
diselamatkannya dahulu dan sekarang
bernama I Manyambungi, pikirnya
antara kuatir dan gembira. Puang Mosso terus mengamati I manyambungi dan memohon, “Maafkan hamba Tuan, coba julurkan lidah
Tuan.” Ketika lidahnya dijulurkan dan
terlihat lidah itu berwarna hitam dan berbulu, Puang Mosso langsung berteriak
keras sembari memeluk I manyambungi
dan berkata, “Benar engkaulah putera
Raja Balanipa.”
8. Kepercayaan
Raja Balanipa memberikan kepercayaan
kepada panglima perang Puang Mosso, untuk menjaga permaisurinya menjelang
melahirkan. Raja bersama rombongannya pergi berburu beberapa hari. Contoh
kutipan di bawah ini.
“Raja Balanipa tidak saja
mempercayakan Puang Mosso untuk
mengawasi permaisuri. Ia juga menugaskan anjing terlatih yang menjadi pengawal raja …. ‘ (Rahimsyah,
127).
“Raja bersama Puang Mosso berangkat ke
kuburan. Raja pun percaya bahwa anak laki-lakinta telah ….Benarkah
demikian, ke mana sebenarnya anak itu
disembunyikan Puang Mosso? Raja Balanipa
sama sekali tidak mengetahuinya” (Rahimsyah, 127).
9.
Kerja Sama
I
Manyambungi bersama raja bawahan,
rakyat bekerja sama memerangi Raja Lego.
Para raja bawahan di Kerajaan Balanipa gusar terhadap pemerintahan Raja Lego. I Manyambungi mengajak rakyat untuk
bekerja sama melawan raja tersebut. Untuk mengtasi hal ini para raja bawahan
dan sekiarnya mulai priharin dan mengadakan pertemuan. Contoh kutipan di bawah
ini.
“Sementara
di Bulkit Napo, Raja Balanipa yang sebetulnya
ayahanda I Manyambungi telah
wafat karena diserang oleh Raja Lego yang sakti. Raja ini sangat berkuasa dan
kejam. Untuk mengatasi hal itu para raja
bawahan dan sekitarnya mulai prihatin dan mengadakan pertemuan” (Rahimsyah,
127).
BAHAN
PENGAYAAN MATERI AJAR SASTRA DI SMP/MTs
Sastra dapat mengembangkan wawasan
anak menjadi perilaku insani. Melallui pembacaan karya sastra dari berbagai
jenis dalam jumlah yang bnyaak dapat membuat engerti dunia. Anak dapat
membayangkan dan mengerti keindahan serta anak dapat merasakan kesadaran mengennai kehidupan orang lain, bahkan bangsa
lain sekalipun. Sastra mengembangkan imajinasi anak untuk memikirkan alam,
insan, pegalaaman, atau gagasan denan berbagai cara.sastra dapat memberikan
pengalaman seolah-olah si anak sendiri yang mngalaminuaya., seperti perjuangan
dan petualangan dalam menghadapi berbagai tantangan.
Materi sastra apakah itu sebagai bahan
pengayaan atau sebagai remedial sangat bermanfaat bagi siswa. Menurut Tjokrowinoto dalam Hayadi (1994)
mengemukana manfaat sastra lama, yaitu; (1) mempertebakl pendidikan agama dan
budi pekerti; (2) meningkatkan rasa cinta tanah air; (3) memahami pengorbanan
pahlawan bangsa; (4) menambah pengetahuan sejarah; (5) mawas diri dan
menghibur.
Materi pembelajaran menempati posisi yang sangat penting dari
keseluruhan kurikulum, yang harus dipersiapkan agar pelaksanaan pembelajaran
dapat mencapai sasaran. Sasaran tersebut
harus sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang harus dicapai
oleh peserta didik. Artinya, materi yang ditentukan untuk kegiatan pembelajaran
hendaknya materi yang benarbenar menunjang tercapainya standar kompetensi dan
kompetensi dasar,
serta tercapainya
indikator .
Materi pembelajaran dipilih seoptimal mungkin untuk membantu
peserta didik dalam mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar. Hal-hal
yang perlu diperhatikan berkenaan dengan pemilihan materi pembelajaran adalah
jenis, cakupan, urutan, dan perlakuan (treatment) terhadap materi pembelajaran
tersebut. Agar guru dapat membuat persiapan yang berdaya guna dan berhasil
guna, dituntut memahami berbagai aspek yang berkaitan dengan pengembangan
materi pembelajaran, baik berkaitan dengan hakikat, fungsi, prinsip, maupun
prosedur
pengembangan materi serta mengukur efektivitas persiapan tersebut.
Adapun
dalam pengembangan materi pembelajaran guru harus mampu mengidentifikasi Materi
Pembelajaran dengan mempertimbangkan hal-hal di bawah ini:
1.
potensi peserta didik;
2.
relevansi dengan karakteristik daerah;
3.
tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spritual
peserta
didik;
4.
kebermanfaatan bagi peserta didik;
5. struktur keilmuan (Kusuma, 2007:5)
Peraturan
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan no. 54
tahun 2013 tentang Standar Kompetensi Lulusan Pendidikan Dasar dan Menengah,
kompetensi dasar bahasa Indonesia SMP/MTs kelas VII, VIII, dan IX. Kelas VIII
kompetensi dasar 3.1;3.2; 3.3; 3.4; berisi tentang memahami, membedakan,
mengklasifikasi dan mengidentifikasi teks cerita fabel dan kompetensi
dasar 4.1;4.2; 4.3; dan 4.4 berisi
tentang menangkap makna, menyusun, menelaah, dan mencari isi dan meringkas teks
cerita fabel.
Legenda
I Manyambungi sebagai sasra anak
gendre sastra tradisional sebagai legenda sangat tepat dijadikan bahan
pengayaan bagi siswa SMP/MTs kelas VIII.
Setelah mengajarkan KD fabel, bilamana siswa telah mencapai Kriteria Ketuntasan
Minimal (KKM). Teks legenda I Mnyambungi sangat
tepat untuk materi pengayaan bagi siswa.
PENUTUP
Kesimpulan
Temuan,
ada 9 pendidikan karakter yang terdapat
dalam cerita I Manyambungi, yaitu:
kreatif, cerdik, penolong, pemberani, pemimpin, menepati janji, pemaaf, kepercayaan dan kerja sama. Legenda I
Manyambungi sangat tepat sebagai bahan pengayaan materi ajar SMP/MTs kelas
VIII pada KD Fabel. Legenda
I Manyambungi sebagai sasra anak
gendre sastra tradisional sebagai legenda sangat tepat dijadikan bahan
pengayaan bagi siswa SMP/MTs kelas VIII.
Setelah mengajarkan KD fabel, bilamana siswa telah mencapai KKM. Teks legenda I Manyambungi sangat tepat untuk materi pengayaan bagi siswa.
Saran
Disarankan kepada peneliti
selanjutnya mengkaji nilai pendidikan karakter pada sastra anak lokal Sulawesi Selatan.
Direkomendasikan kepada pengajar di
SMP/MTs menggunakan hasil penelitian ini sebagai bahan pengayaan materi ajar
pada KD Fabel.
*MAKALAH KONFERSI INTERNASIONAL VI
BAHASA, SASTRA, DAN BUDAYA DAERAH INDONESIA
BAHASA, SASTRA, DAN BUDAYA DAERAH INDONESIA
Pengetahuan Budaya Lokal dalam Menjunjung Potensi Wisata Lokal, Normal, dan Internasional dalam Menanggapi Masyarakat Ekonomik ASEAN (MEA)
Lampung 24-26 September 2016
Lampung 24-26 September 2016
DAFTAR
PUSTAKA
Association for Educational
Communications and Technology, AECT. 1977.
Citraningtyas,
Clara Evi. 2013. Membangun Karakter
Bangsa Melalui sastra Anak Rekonstruksi. Purwokerto: Universitas
Muhammadiyah.
Felicia, Cynthia
A. 2005. Developing Character Through
Reading Incorporating Character Education Into Curriculum. Mimeograf EDU.
572.
Haryadi.
1994. Sastra Melayu. Yokyakarta: IKIP Yokyakarta.
http://www.bced.gov.bc.ca/irp/appskill/
asleares.htm January 28, 1999.
http://iklanmanismadu.blogspot.com/2012/05/arti-syarat-ciri-berani-pemberani.,
diakses, 5 Mei 2016).
http://www.kompasiana.com/ekogenshter/pengertian-kreatif-dan-inovatif, diakses 5 Mei 2016.
Huck,
Charlotte S. 1987. Children Literature in the Elemntary School. New York: Holt
Rinehart.
Jist
(ed.). 2006. Young Person’s Character
Education Handbook. Indiana Polis: JIST Publishing.
Kartono, Kartini.1994. Psikologi untuk Manajemen Perusahaan dan Industri.Jakarta:PT
grafindo Persada.
Kemendiknas.2011.
Panduan Pelaksanaan Pendidikan Karakter.
Badan Penelitian dan Pengembangan, Pusat Kurikulum dan Perbukuan.
Klarer,
Mario. 2004. An Introduction to Literary
Studies. London: Routledge, Taylor and Francis Group.
Kusumah,
Dimas Yunan, Di. 2007. “Panduan Pengembangan Bahan Ajar”, http://www.
docudesk.com.
Kusumah,
Dimas Yunan, Di. 2007. “Panduan Pengembangan Materi Ajar,” http://www.
docudesk.com.
Leone,
Sabrine. 2013. Characterisation of a
Personal Learning Environment as a Lifelong Learning Tool. London:
Springer.
Markell, Kathryn A. and Marc A.
Markell. 2008.The Children Who Lived
Using Harry Potter and Other Fictional Characters to Help Grieving Children and
Adolescents.London: Routdledge Taylor and Prancis Group.
Miller,
Marie-Therese, Madonna M.Murphy, and Sharon L.Banas. 2009. Managing
Responssibilities. New York: Chelsea House Publisher.
Muslich,
Masnur. 2011. Pendidikan Karakter:
Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Nucci,
Larry and Deborah W. Powers . 2014. Sosial Cognitive Domain Theory And Moral Education
in Handbook of Moral and Character,
Larry Nucci, Darcia Narvaez,and Tobias Krettenauer (Ed.). London: Routdledge Taylor and Prancis
Group.
Odhiambo, Carmen Nolte.
2016. Can the Child Speak? Childhood in
Age of Nation-State, Children’.InRight,
and the Role of Children’s
Literature,The Midle Ground Journal Number 12, p. 1-23
Patton, Michael Quinn. 2002. Research
and Evaluation Method. London: Sage Publicaton.
Raatma, Lucia. 2013. Caring.
Michigan: Cherry Lake Publishing.
Rahimsyah, M.B. Tanpa Tahun. Kumpulan
Cerita Rakyat Nusantara, Indonesia. Surabaya: Terang.
Rich,
Dorothy. 2008. Megaskill, Building Out Children’s Character and Achievement for School and Life. Illinois: Sourcebooks
INC
Sangidu. 2004.
Penelitian Sastra, Pendektan Teori
Sastra, Metode, Teknik, dan Kiat. Yokyakarta: Unit Penerbitan Sastra Barat
UGM.
Sarumpaet,
Riris K.Toha. 2010. Pedoman Penelitian
Sastra Anak. Jakarta: yayasan Obor Indonesia.
Sutopo. 2006. Metodologi Penelitian
Kualitatif. Surakarta: UNS.
Stock, Kathleen.
2016.”Imagination and Fiction.” In Amy Kind (ed.).The Routledge Handbook of Philodophy of Imagination. New York:
Routledge.
Sweeney,
Kathryn A. 2016. Cultural Naming
Practices In Children's Literature With Adoption Themes In Journal Children's Geographies .USA: Routdledge Taylor and Prancis Group. P.
1-17 DOI: 10.1080/14733285.2015.1121538
Windows, Natasha Sajé and Doors. 2014. A Poet
Reads Literary Theory. USA, Ann Arbor:The University of Michigan
Press
Yulius. 2010. ‘ Pengertian Cerdik”, diakses
5 Mei 2016.

