Sabtu, 14 Januari 2017



PENDIDIKAN  KARAKTER  DALAM SASTRA ANAK  I  MANYAMBUNGI
BAHAN PENGAYAAN MATERI AJAR SASTRA  DI SMP/MTs*

Dr. Juanda, M.Hum.

Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan  Sastra
Universitas Negeri Makassar


ABSTRAK


Karya sastra tradisional, sastra anak jenis legenda banyak dikenal di Sulawesi Selatan. Karya sastra jenis ini telah dikenal sejak jaman dahulu kala yang penyampaiannya secara lisan. Karya sastra ini perlu diinvetaris ulang lalu dianalisis untuk mengetahui nilai-nilai yang terdapat di dalamnya. I Manyambugi merupakan cerita dari Sulawesi Selatan dan juga di kenal di Sulawesi Barat. I Manyambungi merupakan tokoh utama dalam cerita, hero yang dikenal perkasa melawan musuhnya. Cerita ini berawal di Bukit Napo, Kerajaan Balanipa di Sulawesi Barat hingga ke Gowa, Kerajaan Gowa di Sulawesi Selatan. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk-bentuk pendidikan karakter yang terdapat dalam legenda I Manyambungi dan menentukan KD materi ajar sastra anak I Manyambungi  sebagai pengayaan materi  ajar di SMP/MTs. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif.  Teori yang digunakan adalah  pendidikan karakter (Muslich, 2011:12); (JIST, Ed. 2006). Objek Penelitian, masalah karakter dalam sastra anak, legenda I Manyambungi.  Data  dalam penelitian ini yaitu data kualitatif   berupa kata-kata, frase, kalimat, dan wacana.  Sumber data, “Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara, Indonesia yang diterbitkan di Surabaya oleh penerbit Terang karya M.B. Rahimsyah. Teknik Pengumpulan Data, adalah teknik pustaka, simak, dan catat. Validitas Data menggunakan teknik trianggulasi: trianggulasi data, peneliti, metodologis, dan teoretis. Teknik Analisis Data; pembacaan model semiotik yakni pembacaan heuristik dan hermeneutik. Temuan, ada  9 pendidikan karakter yang terdapat dalam cerita I Manyambungi, yaitu: kreatif, cerdik, penolong, pemberani, pemimpin, menepati janji, pemaaf,  kepercayaan dan kerja sama.  Legenda I Manyambungi sangat tepat sebagai bahan pengayaan materi ajar SMP/MTs kelas VIII pada KD Fabel.


Kata Kunci: Sastra Anak, Karakter, Pengayaan, I Manyambungi


PENDAHULUAN
           
            Karya sastra tradisional banyak dikenal di Sulawesi Selatan. Karya sastra jenis ini telah dikenal sejak jaman dahulu kala yang penyampaiannya secara lisan. Karya sastra ini perlu diinvetaris ulang lalu dianalisis untuk mengetahui nilai-nilai yang terdapat di dalamnya. Hasil analisis atau kajian  dapat merekomendasikan kepada pengambil kebijakan untuk menentukan layak atau tidak dipakai sebagai bahan ajar: materi ajar (materi inti, pengayaan atau remedial) pada sekolah pendidikan Dasar dan Menengah.
                  I Manyambungi merupakan cerita dari Sulawesi Selatan dan juga di kenal di Sulawesi Barat. I Manyambungi merupakan tokoh utama dalam cerita, hero yang dikenal perkasa melawan musuhnya. Cerita ini berawal di Bukit Napo, Kerajaan Balanipa di Sulawesi Barat hingga ke Gowa, Kerajaan Gowa di Sulawesi Selatan. Menilik tokohnya sastra anak yang berjudul I Manyambungi ini masuk dalam ragam sastra tradisional  jenis legenda  karena menampilkan tokoh sebagai hero yang memiliki kehebatan tertentu dalam berbagai aksinya dan itu sangat mengesankan.
                  Satra anak merupakan karya yang dari segi bahasa memiliki nilai estetis dan dari segi isi mengandung nilai-nilai yang dapat memperkaya pengalaman rohani bagi kalangan anak-anak. Unsur didaktis pada sastra anak  paling sering dan paling kentara hadir  pada sastra anak berjenis cerita  rakyat (Citraningtyas, 2013: 3 ). Sastra anak dapat dikatakan sebagai  suatu karya sastra yang bahasa dan isinya sesuai perkembangan usia dan kehidupan anak, baik ditulis oleh pengarang yang sudah dewasa, remaja atau oleh anak-anak itu sendiri. Karya sastra yang dimaksud bukan hanya yang berbentuk puisi dan prosa, drama melainkan juga yang berbentuk film. Karya sastra pada era modern yang ditunjang oleh perkembangan teknologi khususnya di bidang entertainment menjadikan genre sastra berkembang. Genre sastra terdiri atas empat bidang kajian, yaitu: fiksi, puisi, drama, dan film (Klarer, 2004: 9).
                  Sastra dapat mengembangkan wawasan anak menjadi perilaku insani. Melalui karya sastra yang luas dapat membuat anak mengerti dunia.  Anak dapat membayangkan dan merasakan keindahan serta anak dapat merasakan kesadaran  mengenai kehidupan orang lain, suku lain bahkan bangsa  lain sekalipun. Sastra mengembangkan imajinasi anak  untuk memikirkan alam, insan, pengalaman,  atau gagasan dengan berbagai cara.  Sastra dapat memberikan pengalaman  seolah-olah si anak sendiri yang  mengalaminya, seperti: petualangan, perjuangan dalam menghadapi rintangan.
                  Pengajaran sastra memerlukan bahan ajar yang sesuai dengan karakteristik peserta didik. Dalam pemilihan bahan ajar sastra apakah itu berupa materi ajar, pengayaan atau remedial memerlukan penyeleksian yang akurat agar diperoleh materi ajar yag sesuai dengan karakteristik peserta didik.
Masalah penelitian ini adalah bagaimana  bentuk-bentuk pendidikan karakter yang terdapat dalam  legenda I Manyambungi dan pada  KD mana tepatnya  sastra anak I Manyambungi  dijadikan sebagai  pengayaan materi  ajar di SMP/MTs?


 TEORI DAN METODOLOGI

Sastra Anak

Karya sastra, sastra  anak, merupakan cerita fiksi. Fiksi mencakup pengimajinasian dan  proses  penciptaan atau penegasan isi cerita. Kondisi ini dapat diubah dalam bentuk yang akan datang dan tidak selamanya menjadi penting dalam kejadian masa lampau. Penekanan pada keberadaan konteks histori dan sejumlah ciri standar dapat menjadi objek penceritaan  fiksi (Stock, 2016: 211).
Siapapun yang menulis sastra khususnya sastra anak tidak perlu dipermasalahkan asalkan dalam penggambarannya ditekankan pada kehidupan anak yang memiliki nilai kebermaknaan bagi mereka (Huck, 1987). Secara teoretis sastra anak adalah sastra yang dibaca oleh  anak-anak dengan bimbingan orang tua, orang dewasa sedangkan penulisannya juga dilakukan oleh orang dewasa (Sarumpaet, 2010: 2). Menurut Nodelman dalam (Odhiambo, 2016: 9) Sastra anak diperlukan bagi anak untuk didaktis. Guru harus paham bagaimana mereka berbeda dari orang dewasa dan bagaimana menjadikan anak berkualitas. Berdasarkan pada pemahaman sastra anak sebagai sarana didaktis, genre ini selalu menjadi pedoman perilaku  anak.
Anak-anak memiliki pengalaman emosi  yang berbeda seperti sedih. Mereka dapat mengekspresikan emosinya kepada orang yang dapat memahami atau memberikan semangat tetapi kadang-kadang mereka merasakan ketidakmampuan mengekspresikan emosinya.  Wilburt menunjukkan jenis emosi, misalnya: bahagia, sedih, gembira, takut, gugup, heboh, frustrasi, marah. Dia dapat mencurahkan permasalahannya kepada teman akrab mereka  (Markell and Marc A. Markell, 2008:  90).
Ragam sastra anak antara lain kisah-kisah tradisonal: pepatah, peribahasa, fabel, cerita rakyat, mitos, dan legenda. Legenda amat berhubungan erat dengan mitos. Biasanya kita mengingat tokoh yang sangat kuat dan menjadi pembela dalam sebuah legenda.
Ada beberapa hal yang dapat dipetik hikmahnya dalam sebuah cerita, khususnya sastra anak, yaitu: (1)  dapat menciptakan emosi kasih sayang yang mengarah pada kebaikan, hastrat untuk melakukan perbuatan yang benar; (2)  menyediakan kekayaan keteladanan akan kebaikan;(3) dapat membiasakan remaja dengan aturan moral yang mereka  perlu ketahui; (4)  dapat membantu untuk membuat pengertian  kehidupan, membantu  menciptakan kehidupan diri sendiri sebagaimana sebuah cerita (Felicia, 2000: 6-7).


Pendidikan Karakter

            Pendidikan karakter adalah proses internalisasi budaya ke dalam diri seseorang dan masyarakat sehingga membuat orang dan masyarakat menjadi beradab (Muslich, 2011:12). Kemendiknas (2011) mengemukakan nilai karakter sejumlah 18 sebagai panduan pendidikan karakter di sekolah, yaitu: 1) religius; 2) jujur; 3) toleransi; 4) disiplin; 5) kerja keras; 6) kreatif; 7) mandiri; 8) demokratif; 9) rasa ingin tahu; 10) semangat kebangsaan; 11) cinta tanah air; 12) menghargai prestasi; 13) bersahabat/komunikatif; 14) cinta damai; 15) gemar membaca; 16) peduli lingungan; 17) peduli social; 18) tanggung jawab.
            Pendidikan karakter dapat tercapai pada pendidikan anak bilamana  peran orang tua meluangkan waktu untuk perhatian kepada anak dimaksimalkan. Perhatian diperlukan oleh anak-anak dari orang tua, seperti kasus di bawah ini yang dicontohkan  oleh (Raatma, 2013:5).
Steven insighed and rested his head in his hands as he sat down after getting home  from school. “What’s the matter?” asked his dad. “I had a bad day today,” said Steven. “Do you want to talk about it while we shoot some hoops?” Steven’s dad asked with a smile. “Yeah!” he answered. “Thanks, Dad.”
            Moral dibedakan dari konvensi sosial yang didefinisikan sebagai noma-norma tingkah laku yang mengatur interaksi anggota kelompok sosial yang ada dalam suatu kelompok. Konsep dan keputusan konvensi sosial, misalnya penyapaan seperti dalam orang Bugis “puang, daeng, andi”  (Turiel, 1983, 2002). Suatu dasar  menjadi alasan pada domain teori ini  bahwa pemahaman kita pada moral  dan bentuk konvensi yang membedakan pengembangannya  (Larry Nucci and Deborah W. Powers,  2014: 122).
 Banyak sumber rujukan yang menjelaskan bagaimana anak-anak mengembangkan dirinya, misalnya pengembangan megaskill. Pengembangan ini dapat menjadikan siswa berhasil dalam pembelajaran dan terhadap tugas yang diberikan kepada mereka  ( Rich, 2008 : 28). Megaskill seperti di bawah ini.
Confidence: feeling able to do it; Motivation: wanting to do it; Effort: being willing to work hard; Responssibility: doing what’s right; Initiative: moving into action ; Perseverance: completing what you start ; Caring: showing concern for others; Teamwork: working with others; Common Sense: using good judgment; Problem Solving: putting what you know and  what you can do into action; Focus: concentrating with a goal in mind; Respect: showing good behavior, courtesy, and appreciation. Pengembangan ini dapat menjadikan siswa berhasil dalam pembelajaran dan terhadap tugas yang diberikan kepada mereka.
            Kajian ini menganalisis teks untuk anak-anak memberikan pemahaman yang lebih baik dapat mengajarkan anak tentang aturan baru, variasi budaya, memfokuskan pada persoalan-persoalan yang lazim  (Sweeney, 2016,   11). Heidegger mengingatkan kita bagaimana  arah dari ide ’melindungi dan menghargai’  (Windows and Doors , 2014: 10).
Dalam buku Isaacs’s 2001 Character Building , dia menggunakan perbedaan antara merespons pada suatu pertemuan dan respons pada perseorangan, seorang individu dapat bertemu karena suatu kewajiban sementara mengkomplain dan argumen tentang itu tidak membuatnya interaktif. Disisi lain  kemampuan merespons seseorang  akan mengembangkan  kecakapan mereka yang lebih baik (Miller, Madonna M.Murphy, and Sharon L.Banas, 2009:13).
Ada 50 jenis karakter dalam  (JIST, Ed. 2006), yaitu: bertanggung jawab, menyesuaikan diri, mementingkan kepentingan orang lain, berambisi,  tegas, peduli, berbelas kasih, mempertimbangkan, bekerja sama, berkelanjutan, berani, kreatif, meyakinkan, dedikasi, dipercaya, tekun, bermartabat,  adil, fokus, pemaaf, murah hati, ramah, bermasyarakat, ulet, penolong, jujur,  rendah hati, berinovasi, punya rasa ingin tahu,  periang, pemimpin, loyal,  terbuka, sabar, sopan, positif, cerdik, menghormati, peka, yakin, displin, percaya diri, rasa kemanusiaan, sensitif, tim kerja, siap, toleransi, terpercaya, visioner, dan bijaksana.


Bahan Ajar dan Materi Ajar

            Dalam PP nomor 19 tahun 2005 Pasal 20, diisyaratkan bahwa guru diharapkan mengembangkan materi pembelajaran, yang kemudian dipertegas malalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) nomor 41 tahun 2007 tentang Standar Proses, yang antara lain mengatur tentang perencanaan proses pembelajaran yang mensyaratkan bagi pendidik pada satuan pendidikan untuk mengembangkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Salah satu elemen dalam RPP adalah sumber belajar. Dengan demikian, guru  diharapkan untuk mengembangkan bahan ajar sebagai salah satu sumber  belajar.
Dalam pandangan ini tantangan untuk pendidikan orang dewasa, pertama pemberian pada suatu pelayanan bahwa bertemu cukup disesuaikan dengan kebutuhan pembelajar orang dewasa dan kebutuhan tenaga kerja. Kedua, pendidan orang dewasa mensimulasikan permintaan. Efektif dan efisiennya pendidikan orang dewasa ditentukan oleh oleh struktur politik, system pemerintahan dan system pendidkan (European Commission, 2007 ) (Leone, 2013: 9)
            Guna menghasilkan tamatan yang mempunyai kemampuan sesuai standard  kompetensi lulusan, diperlukan pengembangan pembelajaran untuk setiap kompetensi secara sistematis, terpadu, dan tuntas (mastery learning). Pada pendidikan menengah umum, di samping buku-buku teks, juga  dikenalkan adanya lembar-lembar pembelajaran (instructional sheet) dengan nama yang bermacam-macam, antara lain: lembar tugas (job sheet), lembar
kerja (work sheet), lembar informasi (information sheet) dan bahan ajar lainnya baik cetak maupun non-cetak. Semua bahan yang digunakan untuk mendukung proses belajar itu disebut sebagai bahan ajar (teaching material).
Sumber belajar dalam website bced didefinisikan sebagai berikut: Learning resources are defined as information, represented and stored in a variety of media and formats, that assists student learning as defined by provincial or local curricula. This includes but is not limited to, materials in print, video, and software formats, as well as combinations of these formats intended for use by teachers and students. http://www.bced.gov.bc.ca/irp/appskill/ asleares.htm January 28, 1999 Menurut Association for Educational Communications and Technology (AECT, 1977), sumber belajar adalah segala sesuatu atau daya yang dapat dimanfaatkan oleh guru, baik secara terpisah maupun dalam bentuk gabungan, untuk kepentingan belajar mengajar dengan tujuan meningkatkan efektivitas dan efisiensi tujuan pembelajaran. Sebuah bahan ajar paling tidak mencakup antara lain :
a. Petunjuk belajar (Petunjuk siswa/guru)
b. Kompetensi yang akan dicapai
c. Content atau isi materi pembelajaran
d. Informasi pendukung
e. Latihan-latihan
f. Petunjuk kerja, dapat berupa Lembar Kerja (LK)
g. Evaluasi
h. Respons atau balikan terhadap hasil evaluasi (Kusuma, 2007)

Metode  Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif  selalu menyajikan temuannya dalam bentuk deskriptif kalimat yang rinci, lengkap dan mendalam mengenai proses mengapa dan bagaimana sesuatu itu terjadi (Sutopo, 2006: 139).
 Objek Penelitian, Sangidu (2004: 61) menyatakan bahwa objek penelitian sastra adalah pokok atau topik penelitian sastra Objek penelitian dalam penelitian ini adalah  masalah karakter dalam sastra anak, legenda I Manyambungi.  Data  dalam penelitian ini yaitu data kualitatif   berupa kata-kata, frase, kalimat, wacana dalam , legenda I Manyambungi.  Sumber data, data primer berkaitan karakter dari I Mangambungi dari “Kumpulan cerita Rakyar Nusantara, Indonesia yang diterbitkan di surabaya oleh penerbit terang karya M.B. Rahimsyah.. Data sekunder data yang berupa karakter dari internet.  
            Teknik Pengumpulan Data, Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik pustaka, simak, dan catat. Teknik pustaka adalah teknik yang menggunakan sumber-sumber tertulis untuk memperoleh data, sedangkan teknik simak dan catat berarti peneliti sebagai instrumen kunci melakukan penyimakan secara cermat, terarah dan teliti terhadap sumber data primer. Data yang diperoleh dalam bentuk tulisan, harus dibaca, disimak. Validitas Data; Validitas data atau keabsahan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara mengumpulkan data dengan berbagai teknik yang benar-benar sesuai dan tepat untuk menggali data yang benarbenar diperlukan bagi penelitian. Ketepatan data tersebut tidak hanya tergantung dari ketepatan memiliki sumber data dan teknik pengumpulannya, tetapi juga diperlukan teknik pengembangan validitas datanya. Penelitian ini menggunakan teknik trianggulasi. Trianggulasi merupakan teknik yang didasari pola pikir fenomenologi yang bersifat multiperspektif. Artinya untuk menarik simpulan yang mantap, diperlukan tidak hanya satu cara pandang (Sutopo, 2006: 92). Patton (2002: 247) menyatakan bahwa ada empat macam teknik trianggulasi, yaitu sebagai berikut:
1. Trianggulasi data, mengarahkan peneliti agar di dalam mengumpulkan data wajib, ia wajib menggunakan beragam sumber data yang berbeda-beda.
2. Trianggulasi peneliti, yaitu hasil penelitian baik data atau pun simpulan mengenai bagian tertentu atau keseluruhannya bisa diuji validitasnya dari beberapa peneliti yang lain.
3. Trianggulasi metodologis, dilakukan peneliti dengan cara mengumpulkan data sejenis tetapi menggunakan teknik atau metode pengumpulan data yang berbeda.
4. Trianggulasi teoretis, dilakukan peneliti dengan menggunakan perspektif lebih dari satu teori dalam membahas permasalahan yang dikaji. Jenis teknik trianggulasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah trianggulasi teoritis, yaitu dengan menggunakan teori yang berbeda untuk melakukan perbandingan, tetapi tetap menggunakan teori khusus yang digunakan sebagai fokus utama dari kajiannya secara mendalam.
Teknik Analisis Data; Analisis yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan teknik pembacaan model semiotik yakni pembacaan heuristik dan hermeneutik. Menurut Riffaterre (dalam Sangidu, 2004: 19), pembacaan heuristik merupakan cara kerja yang dilakukan oleh pembaca dengan menginterpretasikan teks sastra secara referensial lewat tanda-tanda linguistik. Pembacaan heuristik juga dapat dilakukan secara struktural (Pradopo dalam Sangidu, 2004: 19). Pembacaan hermeneutik dilakukan dengan memberikan penafsiran , interpretasi makna dalam teks I manyambungi.


HASIL DAN  PEMBAHASAN         
.
PENDIDIKAN KARAKTER DALAM  SASTRA ANAK I  MANYAMBUNGI
Pendidikan karakter tidak dapat dipisahkan dengan pengajaran sastra.  Karya satra sasrat dengan nilai-nilai pendidikan ahlak. Cerita rakayat “ Bawang Putih dan Bawang Merah” mengandung nilai pendidikan tentang kemanusiaan. Cerita binatang “Pelanduk Jenaka” mengandung pendidikan tentang harga diri, sikap kritis, dan protes sosial.  Ada  9 pendidikan karakter yang terdapat dalam cerita I Manyambungi, yaitu: kreatif, cerdik, penolong, pemberani, pemimpin, menepati janji, pemaaf,  kepercayaan dan kerja sama. 
Karakter-karakter tersebut akan diuraikan di bawah ini beserta contoh dalam kutipan.

1.    Kreatif
Kreativitas adalah suatu kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang memberikan kesempatan individu untuk menciptakan ide-ide asli/adaptif fungsi kegunaannya secara penuh untuk berkembang (Widyatun,1999) dalam (http://www.kompasiana.com, diakses 5 Mei 2016).
Karakter kreatif  dapat dilihat pada tokoh I Manyambungi yang selalu menang di medan perang karena selalu menggunakan ide-ide sesuai kondisi di medan perang sehingga selalu berhasil menaklukkan musuh. Contoh kutipan di bawah ini.

“Raja Gowa kemudian mengangkat orang yang diterbangkan Rajawali ini menjadi panglima perang. Kalau raja pergi berperang, pasukannnya selalu menang berkat  kesaktian panglimanya. Keahlian di medan perang tidak tertandingi (Rahimsyah, 128).


Karakter kreatif  dapat pula dilihat pada tokoh Raja Balanipa. Dia selalu latihan perang untuk mempertahankan wilayah kerajaannnya dari serangan musuh. Pergi berburuh selama beberapa hari dan bermalam di hutan. Contoh dalam kutipan di bawah ini.

“Raja Balanipa selalu bekerja keras, kreatif  menjaga  kesehatan badannya,  baik dengan olahraga secara teratur, latihan perang, maupun berburu.  Tidak lupa rajin minum jamu dan obat ramuan tabib terkenl, semua itu dilakukannya agar dapat berumur panjang (Rahimsah,   126).


2. Cerdik

Arti kata  cerdik ini adalah kecepatan proses berfikir, ketepatan atau akurasi keputusan dan tindakan yang diambil. Akurasi keputusan harus didukung dengan pemilihan metodologi yang cocok untuk itu. Terkhir adalah keuntungan atau  manfaat yang diperoleh memuaskan (https://jalius12.wordpress.com, diakses 5 Mei 2016). Raja Balanipa selalu  menggunakan kecerdikannya sehingga selalu tepat apa yang dia perkirakan. Misalnya kutipa berikut ini.
“Raja Balanipa memang cerdik.  Kekhawatirannya terbukti. Sehari setelah ia berangkat berburu, permaisuri yang tinggal di Mosso melahirkan bayi laki-laki  (Rahimsah,   126).”
.

3. Penolong

Penolong adalah orang yang menolong: regu penolong telah disebar;
 alat dan sebagainya untuk menolong (KKBI). Puang Mosso muncul sebagai penolong dalam cerita ini, yaitu dia disuruh oleh raja membunuh bayi yang dilahirkan oleh permaisuri raja, bilamana bayi yang dilakhirkan laki-laki. Puang Mosso malah sebaliknya menolong atau memelihara bayi tersebut hingga besar.  Contoh kutipan di bawah ini.

“Sementara itu Puang Mosso merasa kasihan sekali melihat keadaan bayi laki-laki itu, bayi itu agak lain daripada  bayi-bayi  kebanyakan. Lidahnya berbulu dan berwarna hitam.  Ia tak tega untuk memyembelih bayi itu. Ia mencari akal . Lalu menyembeli seekor kambing dan membuatkan nisan untuk kuburan” (Rahimsyah, 127).

4. Pemberani

Keberanian adalah suatu tindakan memperjuangkan sesuatu yang dianggap penting dan mampu menghadapi segala sesuatu yang dapat menghalanginya karena percaya kebenarannya. (Peter Irons) Keberanian adalah suatu sifat mempertahankan dan memperjuangkan apa yang dianggap benar dengan menghadapi segala bentuk bahaya, kesulitan, kesakitan, dan lain-lain. (Paul Findley). Ciri-ciri Pemberani: Semangat dan Pantang menyerah; Berpikir untuk menciptakan kemajuan; tekad, Bertekad kuat serta Siap menanggung resiko; Konsisten/Istiqomah; Optimisme, berpikir secara matang dan terukur sebelum bertindak; Mampu memotivasi tindakan orang lain; Selalu tahu diri, rendah hati, dan mengisi jiwa serta pikiran dengan pengetahuan baru menuju ke arah yang benar;  Bertindak nyata dan Elegan (http://iklanmanismadu.blogspot.com. diakses, 5 Mei 2016).
Tokoh I manyambungi dalam cerita selalu menang melawan musuh-musuhnya bila berperang. Hal ini karena keberanian yang dimilikinya. Contoh kutipan di bawah ini.

“Pada hari yang ditentukan mereka menyerbu istana. Khusus Raja Lego di hadapi oleh I manyambungi sendiri. Dalam pertempuran yang sangat dahsyat , Raja Lego akhirnya dapat dikalahkan oleh I Manyambungi.. raja kejam itu tewas di ujung badik I Manyambungi  (Rahimsyah, 129-130).

“Setelah di Salemo, anak itu semakin tumbuh menjadi remaja. Dia senang memanjat.  Suatu hari ketika ia sedang memanjat pohon, tiba-tiba datang seekor burung rajawai  raksasa yang mencengkeram pundaknya, lalu membawanya terbang ke tempat yang jauh. Sampai di Gowa burung rajawali menjatuhkan anak itu di tengah sawah” (Rahimsyah, 127).


           5. Pemimpin

Arti pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan, khususnya kecakapan/ kelebihan di satu bidang sehingga dia mampu mempengaruhi orang-orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi pencapaian satu atau beberapa tujuan. Pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan - khususnya kecakapan-kelebihan di satu bidang , sehingga dia mampu mempengaruhi orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu untuk pencapaian satu beberapa tujuan (Kartono, 1994 : 181).
I Manyambungi merupakan tokoh yang selalu menjalankan kepemimpinannya dengan baik. Dia berhasil menjadikan rakyat damai, tenteran dari kerajaan  yang awal pemerintahannya kacau balau. Contoh kutipan di baah ini.
“Akhirnya, I Manyambungi yang menjadi penerus tahta kerajaan  Balanipa yang kacau balau pada waktu itu. Pada masa pemerintahan I manyambungi negeri tersebut menjadi aman, makmur, dan sentosa “ (Rahimsyah, 130).

6. Menepati Janji

Panglima perang raja Gowa, I Manyambungi menepati janjinya pergi ke Kerajaan Balanipa untuk membantu rakyatnya berperang. Dia akan pergi ke kerajaan tersebut bila yang datang menjemputnya adalah Puang Mosso. Setelang Puang Mosso datang ke Kerajaan Gowa yang sebelumnya telah panjang lebar menceritakan siapa gerangan I Manyambungi. I Manyambungi menyanggupi, menepati janji  untuk pergi berperang ke Kerajaan Napo sebagai mana yang telah dijanjikan sebelumnya. Contoh kutipan di bawah ini.
“Janji saya ini ridak boleh didengar oleh Raja Gorwa.  Saya betul-betul akan berangkat  ke Balanipa, karena saya mengingat budi baikmu kepadaku, sewaktu kecil engkaulah yang menyelamatkan dan memeliharaku (Rahimsyah, 129).

7. Pemaaf

Sebelum mengucapkan sesuatu atau sebelum melakukan suatu tindakan Puang Mosso minta maaf kepada Panglima Perang Raja  Gowa I Manyambungi. Kutipan di bawah ini.

“Dada puang mosso berdebaran.  Jangan-jangan dialah anak Raja Balanipa yang diselamatkannya dahulu  dan sekarang bernama I Manyambungi, pikirnya antara kuatir dan gembira. Puang Mosso terus mengamati I manyambungi dan memohon, “Maafkan hamba Tuan, coba julurkan lidah Tuan.” Ketika lidahnya dijulurkan  dan terlihat lidah itu berwarna hitam dan berbulu, Puang Mosso langsung berteriak keras sembari memeluk I manyambungi dan  berkata, “Benar engkaulah putera Raja Balanipa.”

8. Kepercayaan

Raja Balanipa memberikan kepercayaan kepada panglima perang Puang Mosso, untuk menjaga permaisurinya menjelang melahirkan. Raja bersama rombongannya pergi berburu beberapa hari. Contoh kutipan di bawah ini.
     
“Raja Balanipa tidak saja mempercayakan Puang Mosso  untuk mengawasi permaisuri. Ia juga menugaskan anjing terlatih  yang menjadi pengawal raja …. ‘ (Rahimsyah, 127).

“Raja bersama Puang Mosso berangkat ke kuburan. Raja pun percaya bahwa anak laki-lakinta telah ….Benarkah demikian,  ke mana sebenarnya anak itu disembunyikan  Puang Mosso? Raja Balanipa sama sekali tidak mengetahuinya” (Rahimsyah, 127).

9. Kerja Sama

            I Manyambungi bersama  raja bawahan, rakyat  bekerja sama memerangi Raja Lego. Para raja bawahan di Kerajaan Balanipa gusar terhadap pemerintahan Raja Lego. I Manyambungi mengajak rakyat untuk bekerja sama melawan raja tersebut. Untuk mengtasi hal ini para raja bawahan dan sekiarnya mulai priharin dan mengadakan pertemuan. Contoh kutipan di bawah ini.

  “Sementara di Bulkit Napo, Raja Balanipa yang sebetulnya  ayahanda I Manyambungi telah wafat karena diserang oleh Raja Lego yang sakti. Raja ini sangat berkuasa dan kejam. Untuk mengatasi hal itu  para raja bawahan dan sekitarnya mulai prihatin dan mengadakan pertemuan” (Rahimsyah, 127).


BAHAN PENGAYAAN MATERI AJAR SASTRA  DI SMP/MTs

Sastra dapat mengembangkan wawasan anak menjadi perilaku insani. Melallui pembacaan karya sastra dari berbagai jenis dalam jumlah yang bnyaak dapat membuat engerti dunia. Anak dapat membayangkan dan mengerti keindahan serta anak dapat merasakan kesadaran  mengennai kehidupan orang lain, bahkan bangsa lain sekalipun. Sastra mengembangkan imajinasi anak untuk memikirkan alam, insan, pegalaaman, atau gagasan denan berbagai cara.sastra dapat memberikan pengalaman seolah-olah si anak sendiri yang mngalaminuaya., seperti perjuangan dan petualangan dalam menghadapi berbagai tantangan.
Materi sastra apakah itu sebagai bahan pengayaan atau sebagai remedial sangat bermanfaat bagi siswa.   Menurut Tjokrowinoto dalam Hayadi (1994) mengemukana manfaat sastra lama, yaitu; (1) mempertebakl pendidikan agama dan budi pekerti; (2) meningkatkan rasa cinta tanah air; (3) memahami pengorbanan pahlawan bangsa; (4) menambah pengetahuan sejarah; (5) mawas diri dan menghibur.
Materi pembelajaran menempati posisi yang sangat penting dari keseluruhan kurikulum, yang harus dipersiapkan agar pelaksanaan pembelajaran dapat mencapai sasaran. Sasaran  tersebut harus sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang harus dicapai oleh peserta didik. Artinya, materi yang ditentukan untuk kegiatan pembelajaran hendaknya materi yang benarbenar menunjang tercapainya standar kompetensi dan kompetensi dasar,
serta tercapainya indikator .
Materi pembelajaran dipilih seoptimal mungkin untuk membantu peserta didik dalam mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar. Hal-hal yang perlu diperhatikan berkenaan dengan pemilihan materi pembelajaran adalah jenis, cakupan, urutan, dan perlakuan (treatment) terhadap materi pembelajaran tersebut. Agar guru dapat membuat persiapan yang berdaya guna dan berhasil guna, dituntut memahami berbagai aspek yang berkaitan dengan pengembangan materi pembelajaran, baik berkaitan dengan hakikat, fungsi, prinsip, maupun
prosedur pengembangan materi serta mengukur efektivitas persiapan tersebut.
Adapun dalam pengembangan materi pembelajaran guru harus mampu mengidentifikasi Materi Pembelajaran dengan mempertimbangkan hal-hal di bawah ini:
1. potensi peserta didik;
2. relevansi dengan karakteristik daerah;
3. tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spritual
peserta didik;
4. kebermanfaatan bagi peserta didik;
5. struktur keilmuan  (Kusuma, 2007:5)

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan  no. 54 tahun 2013 tentang Standar Kompetensi Lulusan Pendidikan Dasar dan Menengah, kompetensi dasar bahasa Indonesia SMP/MTs kelas VII, VIII, dan IX. Kelas VIII kompetensi dasar 3.1;3.2; 3.3; 3.4; berisi tentang memahami, membedakan, mengklasifikasi dan mengidentifikasi teks cerita fabel dan kompetensi dasar  4.1;4.2; 4.3; dan 4.4 berisi tentang menangkap makna, menyusun, menelaah, dan mencari isi dan meringkas teks cerita fabel.
Legenda I Manyambungi sebagai sasra anak gendre sastra tradisional sebagai legenda sangat tepat dijadikan bahan pengayaan bagi  siswa SMP/MTs kelas VIII. Setelah mengajarkan KD fabel, bilamana siswa telah mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Teks legenda I Mnyambungi sangat tepat untuk  materi pengayaan bagi siswa.





PENUTUP

Kesimpulan
Temuan, ada  9 pendidikan karakter yang terdapat dalam cerita I Manyambungi, yaitu: kreatif, cerdik, penolong, pemberani, pemimpin, menepati janji, pemaaf,  kepercayaan dan kerja sama.  Legenda I Manyambungi sangat tepat sebagai bahan pengayaan materi ajar SMP/MTs kelas VIII pada KD Fabel. Legenda I Manyambungi sebagai sasra anak gendre sastra tradisional sebagai legenda sangat tepat dijadikan bahan pengayaan bagi  siswa SMP/MTs kelas VIII. Setelah mengajarkan KD fabel, bilamana siswa telah mencapai KKM. Teks legenda I Manyambungi sangat tepat untuk  materi pengayaan bagi siswa.

Saran
            Disarankan kepada peneliti selanjutnya mengkaji nilai pendidikan karakter pada sastra anak lokal Sulawesi Selatan. Direkomendasikan kepada pengajar  di SMP/MTs menggunakan hasil penelitian ini sebagai bahan pengayaan materi ajar pada KD Fabel.

*MAKALAH KONFERSI INTERNASIONAL VI
      BAHASA, SASTRA, DAN BUDAYA DAERAH INDONESIA
Pengetahuan Budaya Lokal dalam Menjunjung Potensi Wisata Lokal, Normal, dan Internasional dalam Menanggapi Masyarakat Ekonomik ASEAN (MEA)
Lampung 24-26 September 2016

DAFTAR PUSTAKA

Association for Educational Communications and Technology, AECT. 1977.

Citraningtyas, Clara Evi. 2013. Membangun Karakter Bangsa Melalui sastra Anak Rekonstruksi. Purwokerto: Universitas Muhammadiyah.

Felicia, Cynthia A. 2005. Developing Character Through Reading Incorporating Character Education Into Curriculum. Mimeograf EDU. 572.

Haryadi. 1994.  Sastra Melayu. Yokyakarta: IKIP Yokyakarta.

http://www.bced.gov.bc.ca/irp/appskill/ asleares.htm January 28, 1999.

http://iklanmanismadu.blogspot.com/2012/05/arti-syarat-ciri-berani-pemberani., diakses, 5 Mei 2016).

Huck, Charlotte S. 1987.  Children Literature in the Elemntary School. New York: Holt Rinehart.

Jist (ed.). 2006. Young Person’s Character Education Handbook. Indiana Polis: JIST Publishing.

Kartono, Kartini.1994. Psikologi untuk Manajemen Perusahaan dan Industri.Jakarta:PT grafindo Persada.

Kemendiknas.2011. Panduan Pelaksanaan Pendidikan Karakter. Badan Penelitian dan Pengembangan, Pusat Kurikulum dan Perbukuan.

Klarer, Mario. 2004. An Introduction to Literary Studies. London: Routledge, Taylor and Francis Group.

Kusumah, Dimas Yunan, Di. 2007. “Panduan Pengembangan Bahan Ajar”, http://www. docudesk.com.

Kusumah, Dimas Yunan, Di. 2007. “Panduan Pengembangan Materi Ajar,” http://www. docudesk.com.

Leone, Sabrine. 2013. Characterisation of a Personal Learning Environment as a Lifelong Learning Tool. London: Springer.

Markell, Kathryn A. and Marc A. Markell. 2008.The Children Who Lived Using Harry Potter and Other Fictional Characters to Help Grieving Children and Adolescents.London: Routdledge Taylor and Prancis Group.

Miller, Marie-Therese, Madonna M.Murphy, and Sharon L.Banas. 2009.  Managing Responssibilities. New York: Chelsea House Publisher.

Muslich, Masnur. 2011. Pendidikan Karakter: Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional. Jakarta: PT Bumi  Aksara.


Nucci, Larry and Deborah W. Powers . 2014. Sosial Cognitive Domain Theory And Moral  Education  in Handbook of Moral and Character, Larry Nucci, Darcia Narvaez,and Tobias Krettenauer (Ed.). London: Routdledge Taylor and Prancis Group.

Odhiambo, Carmen Nolte. 2016. Can the  Child Speak? Childhood in Age of Nation-State, Children’.InRight, and  the Role of Children’s Literature,The Midle Ground Journal Number 12,  p. 1-23
Patton, Michael Quinn. 2002.  Research and Evaluation Method. London: Sage Publicaton.

Raatma, Lucia. 2013. Caring. Michigan: Cherry Lake Publishing.

Rahimsyah, M.B. Tanpa Tahun. Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara, Indonesia. Surabaya: Terang.

Rich, Dorothy. 2008.  Megaskill, Building Out Children’s Character and Achievement  for School and Life. Illinois: Sourcebooks INC

Sangidu. 2004. Penelitian Sastra, Pendektan Teori Sastra, Metode, Teknik, dan Kiat. Yokyakarta: Unit Penerbitan Sastra Barat UGM.

Sarumpaet, Riris K.Toha. 2010. Pedoman Penelitian Sastra Anak. Jakarta: yayasan Obor Indonesia.

Sutopo. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif. Surakarta: UNS.

Stock, Kathleen. 2016.”Imagination and Fiction.” In Amy Kind (ed.).The Routledge Handbook of Philodophy of Imagination. New York: Routledge.
Sweeney, Kathryn A.  2016. Cultural Naming Practices In Children's Literature With Adoption Themes In Journal  Children's Geographies  .USA: Routdledge Taylor and Prancis Group. P. 1-17 DOI: 10.1080/14733285.2015.1121538

Windows,  Natasha Sajé and Doors. 2014.  A Poet Reads Literary Theory. USA, Ann Arbor:The University of Michigan Press

Yulius. 2010. ‘ Pengertian Cerdik”, diakses 5 Mei 2016.